AI dan Etika Pendidikan: Menjaga Human Touch di Tengah Otomatisasi
Surabaya, 28 Oktober 2025 — Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pendidikan memunculkan potensi besar untuk efisiensi pembelajaran, personalisasi, serta peningkatan akses layanan. Namun, integrasi AI ke dalam proses pendidikan dan bimbingan konseling juga mengundang tantangan etis yang signifikan. Sebuah artikel berjudul “Ethical principles for artificial intelligence in education” mengungkap bahwa tantangan etika utama meliputi privasi dan keamanan data, otonomi pembelajar, transparansi algoritma, serta potensi bias sistemik.
Meski AI dapat menjadi alat bantu yang sangat membantu misalnya untuk analisis data siswa, rekomendasi intervensi, ataupun chat-bot konseling dasar. Penelitian menunjukkan bahwa teknologi itu belum mampu menggantikan “sentuhan manusia” yang melekat pada profesi konselor. Sebuah kajian dalam International Journal of Education, Information Technology, and Others menegaskan bahwa pendekatan etis terhadap AI dalam pendidikan harus menempatkan “manusia sebagai pusat”, bukan teknologi sebagai pengganti. Dalam praktik konseling, aspek seperti empati, hubungan interpersonal, konteks kultur, dan makna hidup klien sangat krusial, hal yang belum bisa diotomatisasi secara memadai.
Bagi program studi seperti S2 Bimbingan dan Konseling (BK) di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), implikasinya jelas: memasukkan literasi AI dan etika teknologi ke dalam kurikulum konselor adalah langkah strategis. Lulusan tidak hanya perlu memahami bagaimana menggunakan AI sebagai alat bantu, tetapi juga kapan dan bagaimana memilih untuk tidak menggunakan AI agar profesionalisme, kepercayaan, dan kemanusiaan tetap terjaga. Kebijakan institusional tentang penggunaan AI, pelatihan konselor dalam memahami algoritma, serta kerangka kerja etika menjadi bagian penting dari kompetensi modern konselor.
Dengan demikian, penggunaan AI hendaknya dilihat sebagai mitra teknologi, bukan pengganti manusia dalam konteks bimbingan dan konseling. Konselor masa depan perlu menggabungkan kecerdasan emosional, pemahaman budaya, dan sikap kritis terhadap teknologi dengan keterampilan digital. Dengan menjaga keseimbangan ini, prodi S2 BK UNESA dapat melahirkan konselor yang bukan hanya efektif dalam era otomatisasi, tetapi tetap berpegang pada nilai kemanusiaan dan profesionalitas yang menjadi inti profesi konseling.
Sumber Referensi
Irnawati, I., Fatmawati, Y., Mahardhika, I., & Suratno, S. (2024). The Ethics of Using Artificial Intelligence (AI) in Learning in a Philosophical Perspective. International Journal of Education, Information Technology, and Others, 7(4), 319-330. Diakses dari https://www.jurnal.peneliti.net/index.php/IJEIT/article/view/10977 Jurnal Peneliti
- Holmes, W. et al. (2023). Ethical Principles for Artificial Intelligence in Education. Education and Information Technologies, 28, 4221-4241. Diakses dari https://doi.org/10.1007/s10639-022-11316-w