Body Image Pressure di Media Sosial: Tantangan Konselor dalam Menguatkan Self-Acceptance
Surabaya, 17 November 2025 — Di era media sosial, tekanan terhadap citra tubuh (body image) menjadi semakin nyata di kalangan remaja dan mahasiswa. Standar kecantikan yang ideal di media sosial dan perbandingan sosial mendorong ketidakpuasan tubuh, yang bisa berdampak pada harga diri dan kesehatan mental. Dalam konteks ini, konselor sekolah dan kampus memegang peranan penting dalam membantu klien membangun self-acceptance dan resilience terhadap tekanan digital.
Penelitian di Indonesia mengkonfirmasi fenomena ini. Studi oleh Zulfa Ilma Nuriana (2024) dalam Sinergi International Journal of Psychology menemukan bahwa paparan media sosial yang menampilkan standar kecantikan ideal berkontribusi terhadap ketidakpuasan tubuh remaja, terutama melalui perbandingan sosial dan internalisasi norma kecantikan. Sinergi International Journal Sementara itu, penelitian di Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi menunjukkan bahwa tekanan media sosial pada wanita dapat meningkatkan kecenderungan body dysmorphic disorder melalui mekanisme perfeksionisme. Walisongo Journal
Dampak tekanan ini terasa lebih dalam karena hubungan media sosial dengan nilai diri (self-esteem). Sebuah studi di Universitas Bosowa menunjukkan bahwa penggunaan filter Instagram berhubungan dengan citra tubuh negatif dan harga diri rendah pada remaja wanita. Journal Unibos Penelitian lain dari Universitas Gadjah Mada menambahkan bahwa aktivitas memposting foto di Instagram berkontribusi pada ketidakpuasan tubuh melalui internalisasi tekanan sosial terhadap standar kecantikan. Jurnal Universitas Gadjah Mada
Sebagai respons, konselor dapat merancang intervensi yang lebih sensitif terhadap tekanan citra tubuh digital, seperti:
Psikoedukasi literasi media: Mengedukasi klien tentang bagaimana media sosial menyajikan standar tubuh yang tidak realistis, dan bagaimana perbandingan sosial dapat mempengaruhi persepsi diri.
Konseling individu berbasis self-acceptance: Memfasilitasi refleksi nilai diri, mengembangkan rasa penerimaan terhadap tubuh melalui latihan seperti compassion-focused imagery dan jurnal reflektif.
Intervensi kelompok dan workshop peer-support: Dialog antar-remaja atau mahasiswa mengenai pengalaman citra tubuh, memperkuat dukungan sosial, dan membangun komunitas positif yang mengedepankan keberagaman tubuh.
Kolaborasi dengan guru dan orang tua: Memberi pemahaman bahwa kecantikan bukan satu ukuran; mengajak lingkungan sekolah atau rumah untuk menciptakan kultur penerimaan tubuh dan dukungan emosional.
Program Studi S2 BK UNESA dapat memperkuat kompetensi calon konselor dengan modul pembelajaran tentang literasi digital, etika media, dan terapi citra tubuh. Dengan cara ini, lulusan S2 BK tidak hanya mampu menangani isu psikologis tradisional, tetapi juga menjadi agen pemulihan kemanusiaan di era digital. Mendorong self-acceptance dan kesejahteraan psikologis di tengah tekanan citra tubuh.
Sumber Referensi
Nuriana, Z. I. (2024). The Impact of Social Media on Body Image and Self-Perception Among Teenagers: Risks, Resilience, and Policy Implications. Sinergi International Journal of Psychology, 2(3), 165–180. Sinergi International Journal+1
Sulistyo, P. T. S., Sukamto, M. E., & Ibrahim, N. (2023). Social media pressure and the body dysmorphic disorder tendency in women: The mediating role of perfectionism. Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi. Walisongo Journal
Miftahul Jannah, Minarni, & A. N. Saudi. (2024). Hubungan Self-Esteem dengan Body Image pada Remaja Wanita yang Menggunakan Filter Instagram. Jurnal Psikologi Karakter. Journal Unibos
Linawati, B., & Helmi, A. F. (2025). The Relationship Between Instagram Photo Activity and Body Dissatisfaction in Emerging Adult Women Mediated by Sociocultural Attitudes. Jurnal Psikologi UGM, 52(1). Jurnal Universitas Gadjah Mada+1
Aini, L., & Pratama, M. (2023). Kontribusi Self Esteem terhadap Body Image Remaja Perempuan Pengguna Filter Instagram. Nusantara: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 7(3). jurnal.um-tapsel.ac.id