Deep Learning untuk Mahasiswa BK: Belajar Bukan Sekadar Mengetahui, tetapi Memaknai
Surabaya, 11 November 2025 — Pendidikan konselor di era modern menuntut lebih dari sekadar penguasaan teori dan teknik konseling. Mahasiswa Bimbingan dan Konseling (BK), khususnya di jenjang S2 UNESA, ditantang untuk mengembangkan kemampuan berpikir mendalam, reflektif, dan bermakna melalui pendekatan deep learning. Pendekatan ini menekankan bahwa belajar bukan sekadar mengingat atau mengetahui, tetapi memahami, mengaitkan, dan memaknai pengalaman untuk menjadi pribadi dan profesional yang lebih utuh.
Konsep deep learning dalam konteks pendidikan BK mengarahkan mahasiswa untuk menelusuri makna di balik setiap interaksi, fenomena psikologis, dan proses konseling yang mereka pelajari. Pembelajaran ini mendorong mahasiswa menggali pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”, bukan hanya “apa”. Sebuah studi oleh Entwistle dan Ramsden (2015) menjelaskan bahwa deep learning memfasilitasi transformasi kognitif dan afektif yang membuat peserta didik lebih mandiri, reflektif, dan siap menghadapi situasi kompleks secara etis dan kreatif.
Dalam pendidikan konseling, pendekatan ini dapat diterapkan melalui reflective learning, experiential supervision, dan project-based learning yang menghubungkan teori dengan konteks kehidupan nyata. Penelitian oleh Uswatun Khasanah dkk. (2024) juga menyoroti potensi model deep learning-based counseling untuk meningkatkan kepekaan emosional dan keterampilan problem solving mahasiswa BK, terutama ketika diintegrasikan dengan pendekatan Cognitive Behavioural Therapy (CBT) dalam praktik konseling.
Program Studi S2 BK UNESA terus mengembangkan model pembelajaran yang mendorong mahasiswa menjadi konselor yang tidak hanya “tahu bagaimana”, tetapi juga “paham mengapa”. Melalui pendekatan deep learning, mahasiswa didorong untuk menumbuhkan kesadaran diri, empati, dan kapasitas reflektif yang termasuk tiga elemen penting dalam membentuk konselor humanis di era transformasi pendidikan.
Belajar, bagi mahasiswa BK UNESA, bukan lagi sekadar memperoleh pengetahuan, melainkan sebuah proses perjalanan makna dari memahami teori hingga menemukan kemanusiaan di balik setiap praktik konseling.
Sumber Referensi
Entwistle, N., & Ramsden, P. (2015). Understanding Student Learning. Routledge.
Uswatun Khasanah, F., Jumintono, J., & Mulyono, R. (2024). Manajemen Layanan Konseling Adaptif Deep Learning dengan Pendekatan Cognitive Behavioural Therapy. Jurnal Consulenza: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi, 8(2). https://ejurnal.uij.ac.id/index.php/CONS/article/view/4183
Marton, F., & Säljö, R. (2019). Approaches to Learning. Educational Psychology Review, 31(2), 391–406. https://doi.org/10.1007/s10648-019-09483-6