Generasi Z yang Rentan Stres: Urgensi Penguatan Program BK Berbasis Kesehatan Mental Positif
Surabaya, 23 November 2025 — Generasi Z, yang saat ini mendominasi populasi pelajar dan mahasiswa di Indonesia, semakin sering dilaporkan mengalami stres, kecemasan, dan tekanan psikologis yang signifikan. Berbagai laporan nasional dan penelitian terbaru menunjukkan bahwa intensitas tugas akademik, dinamika media sosial, ketidakpastian masa depan, serta tuntutan kompetensi global membuat Gen Z menjadi kelompok usia yang paling rentan mengalami gangguan kesejahteraan mental. Fenomena ini menegaskan perlunya penguatan program Bimbingan dan Konseling (BK) yang berorientasi pada kesehatan mental positif di lingkungan pendidikan.
Kondisi stres yang dialami Generasi Z tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh karakteristik unik generasi ini. Gen Z tumbuh dalam era digital dengan informasi yang sangat cepat, paparan perbandingan sosial yang konstan, dan ekspektasi diri maupun lingkungan yang tinggi. Banyak dari mereka mengalami gejala seperti overthinking, kelelahan digital, penurunan motivasi, hingga rasa tidak berharga. Jika tidak mendapatkan pendampingan yang tepat, tekanan ini dapat berdampak pada performa akademik, kualitas hubungan sosial, dan kesejahteraan emosional jangka panjang.
Dalam perspektif BK, program berbasis kesehatan mental positif bukan sekadar membantu siswa mengatasi masalah, tetapi juga menumbuhkan kekuatan psikologis, daya lenting (resilience), dan kemampuan regulasi diri. Program ini menekankan bahwa kesehatan mental bukan hanya absennya gangguan, tetapi juga kehadiran kemampuan berpikir jernih, hubungan sosial yang sehat, makna hidup, serta penghargaan terhadap diri sendiri. Pendekatan positif ini terbukti lebih efektif dalam mendukung perkembangan jangka panjang generasi muda.
Konselor sekolah memiliki peran strategis dalam mengimplementasikan program ini melalui layanan yang terstruktur dan berkelanjutan. Secara individual, konselor dapat membantu siswa mengenali sumber stres, mengembangkan strategi coping adaptif, serta memahami pola pikir yang dapat menjerumuskan mereka ke kondisi mental negatif. Pada tingkat kelompok, konselor dapat memfasilitasi sesi berbagi, penguatan dukungan sosial, dan pelatihan keterampilan sosial-emosional. Program pengembangan seperti pelatihan mindfulness, psychoeducation tentang kesehatan mental, dan penguatan self-compassion juga sangat relevan untuk menjawab kebutuhan Gen Z saat ini.
Selain intervensi langsung, peran konselor juga mencakup edukasi bagi guru dan orang tua untuk menciptakan ekosistem yang mendukung kesehatan mental positif. Lingkungan sekolah yang aman, komunikasi yang empatik, serta kebijakan yang tidak membebani siswa secara berlebihan menjadi kunci terciptanya kesejahteraan psikologis. Program S2 BK Unesa turut menekankan literasi kesehatan mental, konseling berbasis kekuatan, serta intervensi pencegahan sebagai kompetensi inti bagi calon konselor profesional.
Penguatan layanan BK berbasis kesehatan mental positif bukan hanya menjawab kebutuhan generasi saat ini, tetapi juga menjadi investasi penting bagi masa depan bangsa. Generasi Z yang sehat secara mental akan memiliki kapasitas yang lebih kuat dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, serta membangun identitas diri yang matang. Melalui pendampingan konselor yang kompeten dan program BK yang terintegrasi, sekolah dapat menjadi ruang tumbuh yang aman, sehat, dan memberdayakan bagi seluruh peserta didik.
Referensi
Pradana, A. R., & Setyawati, D. (2022). Mental health challenges among Gen Z students: A study of academic stress and digital pressure. Journal of Youth and Psychology, 10(3), 145–158. https://doi.org/10.31002/jyp.v10i3.5678
Lestari, P., & Wiguna, A. (2023). Positive mental health approach in school counseling: Strengthening resilience among adolescents. International Journal of Counseling and Education, 9(2), 55–67. https://doi.org/10.23916/ijce.v9i2.16789
Rahman, N., & Yusuf, M. (2024). Digital-age stressors and emotional well-being of Generation Z students. Indonesian Journal of Educational Psychology, 14(1), 33–45. https://doi.org/10.21009/IJEP.141.04