Guest Lecture S2 BK Unesa: Menggali Kekuatan Positif melalui Pendekatan Strength-Based Solution Focused Counseling
Surabaya, 1 November 2025 — Program Studi Magister Bimbingan dan Konseling (S2 BK), Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), menyelenggarakan kegiatan Guest Lecture dalam mata kuliah Pendekatan dan Teori Konseling dengan tema “Strength-Based Solution Focused Counseling.” Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui platform Google Meet ini berlangsung pada Sabtu, 1 November 2025, pukul 15.45–18.15 WIB, dan diikuti oleh 30 peserta yang terdiri dari mahasiswa reguler dan RPL angkatan 2025.
Acara dipandu oleh Eka Juwita sebagai MC dan Adyana Ratwulan sebagai moderator, dengan Florentina Ema Weking bertugas sebagai notulis. Hadir sebagai pembicara utama Mulawarman, S.Pd., M.Pd., Ph.D., Koordinator Program Studi S3 Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Semarang. Dalam pemaparannya, Dr. Mulawarman menekankan bahwa Strength-Based Solution Focused Counseling (S-BSFC) merupakan paradigma konseling yang berfokus pada potensi, kekuatan, dan sumber daya positif individu. Pendekatan ini hadir sebagai alternatif dari model konseling tradisional yang sering kali terjebak pada eksplorasi masalah dan defisit.
Beliau menjelaskan bahwa perubahan terapeutik sebagian besar ditentukan oleh faktor internal konseli (40%), yang mencakup kekuatan diri, dukungan sosial, dan ketahanan personal; diikuti oleh kualitas relasi konselor-konseli (30%), harapan positif (15%), dan teknik intervensi (15%). Pendekatan ini berlandaskan enam prinsip filosofis, yaitu humanistik, eksistensialisme, fenomenologi, konstruksionisme sosial, psikologi positif, dan optimisme terapeutik, yang semuanya menegaskan bahwa setiap individu memiliki kapasitas untuk tumbuh dan memulihkan diri.
Dalam sesi tanya jawab, para peserta aktif berdiskusi mengenai penerapan pendekatan ini, termasuk isu “toxic positivity” dan tantangan menemukan kekuatan positif pada kelompok minoritas. Dr. Mulawarman menegaskan pentingnya kemampuan konselor untuk mendengarkan secara empatik, menggunakan bahasa positif, dan menumbuhkan hope tanpa mengabaikan realitas klien.
Kegiatan ini menutup dengan pesan reflektif bahwa setiap usaha konseling harus dilakukan dengan ketulusan dan validasi terhadap kekuatan manusia. “Setiap individu memiliki potensi untuk membangun dan memulihkan dirinya sendiri,” ungkap Dr. Mulawarman dalam penutupan.
Melalui kegiatan ini, Program Magister BK Unesa menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pembelajaran berbasis praktik dan riset terkini dalam pengembangan kompetensi konselor profesional, sejalan dengan visi Unesa sebagai Kampus Humanis dan Unggul untuk Peradaban.