Konselor Berdaya untuk SDG 3: Good Health and Wellbeing
Surabaya, Oktober 2025 — Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-3 (SDG 3) yang dicanangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa menekankan pentingnya menjamin kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua usia. Dalam konteks pendidikan tinggi, peran konselor menjadi krusial karena kesejahteraan psikologis dan kesehatan mental mahasiswa berkontribusi langsung terhadap keberhasilan akademik dan kualitas hidup mereka. Bimbingan dan Konseling (BK) tidak lagi sekadar berurusan dengan masalah pribadi, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan global menuju kesejahteraan berkelanjutan.
Penelitian oleh Sithole-Tetani (2024) menegaskan bahwa bidang psikologi dan konseling memiliki potensi besar dalam mendukung pencapaian SDG 3, terutama melalui intervensi yang memperkuat ketahanan mental, meningkatkan kesejahteraan emosional, dan memfasilitasi kesehatan komunitas. Namun, penelitian tersebut juga menunjukkan masih adanya kesenjangan, terutama dalam integrasi kebijakan kesehatan mental di lembaga pendidikan dan keterbatasan akses layanan konseling yang komprehensif. Dalam konteks ini, lembaga pendidikan seperti S2 BK UNESA memiliki peluang untuk mengisi celah tersebut melalui pendidikan konselor yang peka terhadap isu-isu global dan lokal.
Lebih lanjut, studi Budhathoki et al. (2017) menyoroti pentingnya health literacy sebagai salah satu komponen utama untuk mencapai SDG 3. Literasi kesehatan termasuk pemahaman akan kesehatan mental yang memungkinkan individu mengambil keputusan yang lebih baik terkait gaya hidup, pencegahan stres, dan penanganan dini gangguan psikologis. Konselor berperan sebagai fasilitator penting dalam membangun kesadaran tersebut, baik melalui layanan individu, kelompok, maupun kegiatan psikoedukatif yang terintegrasi di kampus.
Program Studi S2 BK UNESA dapat mengambil posisi strategis dengan mengintegrasikan tema SDG 3 ke dalam kurikulum dan kegiatan penelitian. Langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain memperkuat mata kuliah terkait kesejahteraan mental, menjalin kemitraan dengan unit kesehatan kampus untuk program intervensi kolaboratif, serta mendorong mahasiswa melakukan penelitian yang berfokus pada kesehatan mental komunitas akademik. Dengan demikian, konselor lulusan UNESA tidak hanya menjadi penyedia layanan psikologis, tetapi juga agen perubahan sosial dalam pembangunan berkelanjutan.
Ke depan, konsep “konselor berdaya” perlu dimaknai sebagai profesional yang mampu menggabungkan kompetensi konseling, pemahaman kesehatan masyarakat, dan kepedulian terhadap tujuan pembangunan global. Melalui pendidikan konselor yang berorientasi pada SDG 3, UNESA berkontribusi langsung pada pembentukan generasi pendidik dan praktisi yang memandang kesehatan dan kesejahteraan bukan hanya sebagai tujuan individu, melainkan sebagai tanggung jawab sosial bersama.
Daftar Pustaka
Sithole-Tetani, N. (2024). The Role of Psychology Towards Sustainable Development Goal 3: Good Health and Well-being in South Africa. E-Journal of Humanities, Arts and Social Sciences, 5(16), 3421–3435. https://noyam.org/ehass202451659
Budhathoki, S. S., Pokharel, P. K., Limbu, S., Bhattachan, M., & Good, S. (2017). The potential of health literacy to address the health-related UN Sustainable Development Goal 3 (SDG3) in Nepal: a rapid review. BMC Health Services Research, 17, 237. https://bmchealthservres.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12913-017-2183-6